Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2009

Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “ Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya… diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.” Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,”Wah …. angin surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud.”

Seorang Doktor bercerita kepadaku, “ Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal – semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya? Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya –semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh.

Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa? Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal … tenanglah … sesungguhnya aku mencium wangi surga.!’ Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium wangi surga.’

Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta’ala. Allahu Akbar … apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari…Semua kalimat tidak mampu terucap … dan pena telah kering di tangan… Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “ Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.” (Ibrahim : 27)

Tidak ada yang perlu dikomentari lagi. Ia melanjutkan kisahnya, “Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.

1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat”. Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.

2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.

3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Subhanalllah … Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugrahkan kita khusnul khatimah. Saudara-saudara tercinta … kisah belum selesai…

Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya? Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah –red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.

Ayahnya berkata, “Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU.” Aku katakan, “Maha benar Allah” yang berfirman (yang artinya-red) “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushilat:30- 32)

Diambil dari : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.
—
Sumber : Majalah elfata hal 65-67 edisi 06 volume 07 tahun 2007 dengan sedikit perubahan redaksi.



" Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari Ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari hawa nafsu yang tidak pernah kenyang dan dari doa yang tidak di kabulkan" (HR. Muslim [2722])

Senin, 10 Agustus 2009

Kisah Menarik : 3 Pilihan Buat Anda

(Bismillahir-rohmanir-rohiym)
RIDHO ALLAH VS RIDHO MANUSIA by Karunia, 15/08/1430 (06/08/2009)

Di bawah ini adalah tiga kisah dari tiga orang yang menjalani situasi dan keadaan yang mirip. Sebutlah nama ketiga orang itu dengan Fulan1, Fulan2, dan Fulan3. Ketiga Fulan akan menjalani keadaan awal yang disekelilingnya adalah orang-orang baik, tetapi kemudian keadaan berpindah menjadi dikelilingi orang-orang kurang baik. Berikut kisahnya:

*Kisah Fulan1*

Fulan1 adalah sosok demokratis tulen, selalu pandai bermusyawarah dan mengutamakan suara terbanyak. Dia dikelilingi oleh orang-orang baik, dilingkungan yang baik. Ketika waktu sholat, dia ikut berjamaah. Ketika masuk bulan Ramadhan, dia ikut berpuasa. Ketika ada majelis ilmu/ta'lim, dia ikut berkumpul. Kepandaian Fulan1 dalam berinteraksi dengan kawan-kawannya membuat dia disukai oleh siapapun. Ketika mereka mendapat masalah selalu dipecahkan bersama-sama, dan suara terbanyak adalah keputusan yg sangat
dijunjungnya.

Setelah serentang masa terlalui, pindahlah Fulan1 dalam situasi keadaan yang lain. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat giat bekerja. Prestasi adalah budaya sehari-hari, sukses adalah tujuan bersama kedepan, tim yang solid adalah gerak kekuatan. Dalam situasi ini Fulan1 mengalami kejayaan dunia. Goal demi goal tercapai bersama kawan-kawannya. Tetapi sayang, mereka mengesampingkan waktu-waktu khusus untuk Allah. Sholat adalah setelah makan siang dan meeting, dan tim yang solid selalu lebih utama. Fulan1 yang demokratis tentu mengikuti suara terbanyak, persatuan tim lebih penting, dan jangan sampai rusak hanya karena waktu sholat.

Serentang masa terlalui kembali, pindahlah Fulan1 dalam situasi keadaan lain lagi. Kesuksesan telah tercapai, gemilang prestasi menghias bagai bintang-bintang. Tim solid membuat ikatan kebersamaan menjadi kekuatan penggerak. Menyalahi aturan bersama adalah tabu, apalagi menentangnya. Keberhasilan yang diraih membuat mereka hidup dalam hegemoni duniawi. Apartemen mewah, mobil mewah, rekening bank yang penuh, wanita cantik. Tetapi ada yang hilang dari diri Fulan1, dia tidak lagi sholat, tidak berpuasa, tidak berzakat. Semua karena Fulan1 selalu berkompromi dengan kawan-kawannya, dan suara terbanyak selalu menjadi pemenang.

*Kisah Fulan2*

Fulan2 adalah sosok yang teguh pendirian, bila telah tertanam sesuatu dalam pikirannya maka dia akan membela sekuat-kuatnya. Dia dikelilingi oleh orang-orang baik, dilingkungan yang baik. Ketika waktu sholat, dia ikut berjamaah bahkan menjadi imam. Ketika masuk bulan Ramadhan, dia ikut berpuasa. Ketika ada majelis ilmu/ta'lim, dia ikut berkumpul. Keteguhan pendirian Fulan2 membuat kawan-kawannya segan untuk beradu pendapat. Bila ada sesuatu yang dia belum tahu maka dia sangat bersemangat untuk menggalinya, dan bila ada sesuatu yang bertentangan dengannya maka dia paling vokal dalam bersuara.

Setelah serentang masa terlalui, pindahlah Fulan2 dalam situasi keadaan yang lain. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang giat bekerja. Prestasi adalah budaya sehari-hari, sukses adalah tujuan bersama masa depan, tim yang solid adalah gerak kekuatan. Dalam situasi ini Fulan2 mengalami kegamangan. Disatu pihak baginya kesuksesan adalah hal penting untuk diraih, dan disatu pihak Fulan2 tidak rela mengorbankan waktu-waktu khusus untuk Allah. Fulan2 yang tangguh mencoba menjalani keduanya dengan baik, penyeimbangan antara duniawi dan ukhrowi dilakoninya. Tetapi ada keretakan dalam tim, ketika timnya membutuhkan dia di suatu saat penting Fulan2 ternyata sedang sholat, ketika timnya sedang meeting makan siang disuatu tempat untuk meloby urusan bisnis Fulan2 ternyata sedang puasa. Terjadilah tumbukan-tumbukan antara Fulan2 dengan timnya.

Serentang masa terlalui kembali, pindahlah Fulan2 dalam situasi keadaan lain lagi. Fulan2 mencoba bertahan dalam karirnya yang tidak begitu bagus. Keyakinannya bahwa duniawi dan ukhrowi bisa berjalan bersamaan, membuatnya terus berusaha walau sering terjadi gamang dan galau. Kekuatan dari keteguhannya membuat Fulan2 bertambah kuat dalam menjalani kehidupan. Walau sering terbentur oleh rintangan, Fulan2 tetap superior bagi dirinya. Fulan2 adalah sosok hebat yang mampu membawa beban-beban berat bersamaan. Bahkan terlalu hebat untuk ditaklukan.

*Kisah Fulan3*

Fulan3 adalah sosok rendah hati dan rendah diri yang tidak ingin terlihat mencolok. Walau Fulan3 tahu bahwa kehebatannya melebihi banyak orang, tetapi dia tidak ingin memperlihatkannya. Dia dikelilingi oleh orang-orang baik, dilingkungan yang baik. Ketika waktu sholat, dia ikut berjamaah dan terkadang ditunjuk menjadi imam. Ketika masuk bulan Ramadhan, dia ikut berpuasa. Ketika ada majelis ilmu/ta'lim, dia ikut berkumpul. Kerendahan hati dan dirinya membuat Fulan3 tidak terlalu terkenal diantara kawan-kawannya. Bila ada kebaikan maka dia akan mendukungnya secara diam-diam. Bila ada keburukan maka dia akan menolaknya dengan tegas, tetapi tanpa perlu diketahui bahwa dirinyalah yang berbuat. Seluruh amalannya selalu berniatkan untuk mencapai ridho Allah, bukan dengan alasan selainnya.

Setelah serentang masa terlalui, pindahlah Fulan3 dalam situasi keadaan yang lain. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang giat bekerja. Prestasi adalah budaya sehari-hari, sukses adalah tujuan bersama masa depan, tim yang solid adalah gerak kekuatan. Dalam situasi ini Fulan3 memilih untuk mengerjakan apa yang dia mampu dan meninggalkan apa yang tidak. Fulan3 tidak ikut dalam hal-hal penting dalam tim kerja, karena baginya semua itu hanyalah hal-hal semu yang tidak penting. Bagi Fulan3 ridho Allah jauh lebih penting dari segalanya. Ketika orang-orang sibuk bekerja, Fulan3 selalu ada dalam jamaah sholat yang pertama. Ketika orang-orang menikmati hidangan nikmat di tempat mewah, Fulan3 sedang menikmati keikhlasan sabar saat berpuasa.

Serentang masa terlalui kembali, pindahlah Fulan3 dalam situasi keadaan lain lagi. Fulan3 makin mantap dengan kualitas diri, dalam segala keadaan dia mampu mengetahui dimana posisinya dan kemana harus melangkah. Kawan-kawannya telah menjadi orang-orang sukses, yang keadaannya berbeda dengan Fulan3 yang hanya hidup sederhana tapi mencukupi. Fulan3 masih Fulan3 yang dahulu orang sederhana yang hanya mengharap ridho Allah. Dia tetap bertahan dengan pendiriannya walau selalu diejek, bahkan dicemooh. Amalan pribadinya diikhlaskan tanpa mengharap balasan pahala atau diketahui orang-orang. "Amar ma'ruf nahi munkar" tetap dijalani, dan selalu menyembunyikan jati dirinya agar tidak sombong ketika bertemu orang-orang. Dan dalam mengarungi kehidupan, Fulan3 mendapat jalan-jalan kemudahan yang dibukakan oleh Allah, karena Fulan3 hanya bergantung pada Allah, baginya, bila bukan Allah yang menolong maka tidak akan ada seorang manusiapun yang akan menolongnya. Segala urusan dan amalan selalu dikembalikan kepada Allah oleh Fulan3.

*Penutup*

Silahkan menarik kesimpulan dari tiga kisah di atas. Seorang yang hanya mengharap ridho Allah biasanya akan mendapat tentangan dari manusia lain, karena mengecilkan dari ridho manusia. Tetapi Allah akan mencukupi segala kebutuhannya, karena bila bukan Allah maka siapa lagi?

--
-------------------
Karunia
-------------------

Duhai Dzat Penggenggam Jiwaku, tundukkan wajahku bersama mereka yang Kau ridhai, hanya padaMu bariskan kami di belakang panji Al-Hamd dengan cahaya di dahi dan kaki kami

Rabu, 22 Juli 2009

Kisah Teladan : Renungan Kematian

1.Demi masa.
2.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
3.Kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran

Assalamualaikum WW, Selamat membaca dan renungkan semoga bermanfaat amin
" Qullu Nafsi ndza ikhatul Maut "
"Setiap yang bernyawa pasti akan mendapatkan Maut"

Dari Seorang Sahabat Hamba Allah
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja...
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini...

Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan membaca email ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. Kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tahu kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan. Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita???

Berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal menunggu waktunya, semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul khotimah.... amien....

--------- --------- ---------
Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orang tuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :

"Alangkah sabarnya mereka....setiap hari begitu...benar- benar mengherankan!"

Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.

Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian .... banyak waktu luang ... pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

Aku bosan dengan rutinitas.. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan..

Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan.

Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah .... Laailaaha Illallaah .." perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.

Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat ...

Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.

Tetapi .... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya ... Suara lagunya terdengar semakin melemah .... lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.

Tak ada gerak .... keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.

Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...

Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara..Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk).

Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia".

Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu' sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian.

Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ... dengan suara amat lemah.

Subhanallah ! Dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.

Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu ... apalagi aku sudah punya pengalaman." Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang merdu itu.

Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh ke belakang.

Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.

Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. ...Sampai di rumah sakit .....Kepada orang-orang di sana , kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.

Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. . Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya.

Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa, hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan.

Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata : "memperbaiki diri dan mengajak orang lain".

Allah SWT berfirman: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Al-Imran:185)

Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya, "Barang siapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya."

Saudaraku, siapa yang tahu kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT.

Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian,

Bila kita akan 'berangkat" dari alam ini, ia ibarat penerbangan ke sebuah negara. Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan, tetapi melalui Al-Qur'an dan Al-Hadist. Di mana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines, atau US Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.

Di mana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg, tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang. Di mana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih. Di mana pewanginya bukan Channel atau Polo, tetapi air biasa yang suci. Di mana passport kita bukan Indonesia , British atau American, tetapi Al-Islam.
Di mana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi 'Laailaahaillallah' Di mana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi Izrail dan lain-lain.Di mana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan. Di mana tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah International, tetapi tanah pekuburan. Di mana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC dan permadani, tetapi ruang 2x1 meter, gelap gulita. Di mana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir, mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.

Di mana tidak perlu satpam dan alat detector.
Di mana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah.
Di mana tujuan terakhir apakah Syurga yang mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.
Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena itu tak perlu bimbang. Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal haram makanan. Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan ini senantiasa tepat waktunya, ia berangkat dan tiba tepat pada masanya.

Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, karena anda telah hilang selera bersuka ria.
Jangan bimbang tentang pembelian tiket, karena tiket telah siap di booking sejak ruh anda ditiupkan di dalam rahim ibu.

YA! BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah anda. Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini. Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya anda bisa! Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa 'Pemberitahuan'. Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk Penerbangan. Saat penerbangan anda berangkat... tanpa doa Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah, atau ungkapan selamat jalan. Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun.... Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.

ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?
'Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya. '

ASTAGHFIRULLAH, semoga ALLAH SWT mengampuni kita beserta keluarga...

Amiin

WALLAHU A'LAM

Catatan:
Penerbangan ini berlaku untuk segala umur... tanpa kecuali, maka perbekalan lebih baik dipersiapkan sejak dini..... sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya.

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:
1. Keluarga
2. Hartanya
3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu; 1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali 2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.


Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad...Terdengarla h Suara Dari Langit Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu." Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan.. . ..Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan... Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Terkulai Lemah Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara"

Ketika Mayat Siap Dikafan... Suara Dari Langit Terdengar Memekik,"Wahai Fulan Anak Si Fulan Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah Wahai Fulan Anak Si Fulan....Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."

Ketika Mayat Diusung. ... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

Ketika Mayat Siap Dishalatkan. ...Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat....terdengar Suara Memekik Dari Langit,"Wahai Fulan Anak Si Fulan....
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini Wahai Fulan Anak Si Fulan.... Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis Dahulu Kau Bergembira,Kini Dalam Perutku Kau Berduka Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian... .Allah Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku.... .
Kini Kau Tinggal Seorang Diri
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu. . Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku Hari Ini,....
Akan Kutunjukan Kepadamu
Kasih Sayang-Ku
Yang Akan Takjub Seisi Alam
Aku Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, "Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"

Anda Ingin Beramal Shaleh...?
Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal...!!!Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam menjalani hidup ini.

Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadithnya yang lain, belau bersabda "wakafa bi almauti wa'idha", artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!

Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin.....



Jazakumullah khairan katsiran

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Kamis, 16 Juli 2009

Kisah Menarik : Nasehat Buat Suami

Kau Tak Sebebas Merpati

Penulis : Aini Mardiyah
===========


Segala puji padaMu, Ya Rabbi

Atas rahmat hari ini

Terlabuh sudah cinta suci sejati dari hati

Janji telah terucap, akad telah terkhitbah

Tuk bersama jalani hari

Ya Allahu Rabbi, bimbinglah kami dalam menempuh hidup ini

(Terlabuhkan – Seismic)

Bagaimana pun, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, sebuah amanah dari Illahi. Dipertemukannya antara laki–laki dan perempuan dalam satu ikatan bukanlah hal yang main–main, melainkan ikatan tersebut harus dijaga kekokohannya hingga Ia kembali memisahkannya di antara keduanya. Ikatan yang harus senantiasa terpelihara atas dasar kecintaan kepada Pencipta, ikatan yang tak sekedar sebagai penghalal hubungan antara keduanya semata, melainkan sebuah usaha untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya, Sang Pemilik Cinta. Sebuah ikatan yang terjalin dan diharapkan dapat bernilai ibadah.

Bernilai ibadah berarti segala sesuatu yang dilakukan berada dalam aturan Allah, bernilai ibadah berarti apa–apa yang dihasilkan daripadanya adalah semata–mata hanya untuk Allah, tak ada alasan selain itu. Maka, apa–apa yang dilakukan dan dihasilkan tersebut harus senantiasa terjaga dan terpelihara. Hal ini erat kaitannya sikap–sikap yang dimiliki oleh para pasangan setelah menikah. Menikah berarti masing–masing telah siap untuk lebih menjaga diri, menjaga perasaan pasangannya meski ia telah mengetahui sejauh mana batasannya.
***
Jagalah Istrimu, Jaga Hatinya

Ketika itu, ada sepasang suami–istri yang tengah jalan–jalan sore di sepanjang jalan pertokoan di sebuah kota, sang suami menggandeng tangan sang istri sebagai bentuk penjagaan. Tak lama kemudian, keduanya tak sengaja bertemu teman perempuan si suami, yang diselidiki ternyata mereka sempat dekat dulu. Sang istri tak menampakkan wajah yang buruk di depan teman suaminya tersebut kala itu, dengan ramah sang istri menyalaminya. Melihat sang istri tak menampakkan sebuah respon negatif terhadap pertemuannya dengan "kawan lamanya" itu, sang suami pun tidak risih membuka obrolan ini dan itu.

Selang beberapa waktu, timbulah shock dalam hati sang istri, betapa ia lihat suaminya tadi dengan akrab ngobrol tanpa memikirkan perasaannya, terlebih yang diajak ngobrol adalah "kawan lamanya". Lalu, apa yang dilakukan sang suami? Sang suami hanya menganggap hal itu biasa–biasa saja, tak ada yang istimewa, sebab sikap sang istri tidak berubah kepadanya. Tapi, pernahkah ia memikirkan apa yang dirasakan oleh istrinya? Ya, semoga kita dapat mengambil ibrah dari peristiwa tersebut. Dalam peristiwa lain, ada seorang istri yang kerap kali mendapati suaminya ber–SMS ria dengan sang "kawan lama".
Astaghfirullah...

Akhi, bukankah istrimu juga manusia layaknya dirimu? Yang memiliki kecenderungan untuk berbuat salah dan besar kemungkinan untuk berburuk sangka? Maka, jagalah istrimu, jagalah hatinya! Jangan biarkan ia berburuk sangka atas kelalaianmu dalam menjaganya, jangan biarkan ia menempuh dosa.
***
Dan Kau Tak Sebebas Merpati

Menjaga istri berarti menjaga tingkah laku agar tak menyakiti hati si dia. Jadi, jangan sekali–kali menempatkan dirimu pada posisi ketika dirimu sebelum menikah. Hal ini yang kemudian terkadang dilupakan oleh sebagian pasangan muda, mengingat usia masih sangat muda sehingga sah–sah saja.

Bagi mereka yang masih lajang, persiapkanlah dirimu sebaik–baiknya! Mumpung masih lajang, raihlah ilmu sebanyak–banyaknya! Matangkanlah usiamu ketika berani untuk menginjak ke marhalah cinta selanjutnya. Bukannya tidak setuju dengan nikah dini, bagi yang siap silahkan. Hanya ingin menegaskan, bahwa kau tak akan sebebas merpati lagi jika sudah menikah nanti.

Sebelum menikah, ada kebutuhan–kebutuhan dalam rangka meningkatkan kualitas diri yang akan leluasa didapatkan oleh mereka yang masih lajang, hingga seorang guru pun menegaskan ketika sang binaan mengajukan "proposal" kepadanya, bahwa bisa jadi amalan–amalan yang selama ini kita giatkan akan berkurang intensitasnya ketika kita sudah menuju ke sana karena yang menjadi konsentrasinya adalah urusan domestik yang sangat membutuhkan perhatian.

Jika sudah menikah nanti, maka kita tidak akan sebebas merpati. Tak sebebas merpati berarti kudu jaga sikap, jaga perasaan pasangan, dan kudu jaga segalanya, agar bahtera rumah tangga yang kita bangun menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah.

sumber : kotasantri.com
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

Kisah Menarik : Suami Yang Mudah Terpancing Emosi

Suami yang Mudah Terpancing Emosi
oleh M. Arif As-Salman
----------------------

Beberapa hari yang lalu dalam suatu kesempatan seseorang bercerita pada saya tentang curhat seorang temannya. Kisah yang begitu membuat hati saya terenyuh dan larut dalam kesedihan. Saya tidak bisa berbuat banyak untuk membantu, apalagi usia pernikahan saya yang masih muda belum membuat saya berani untuk memberikan saran dan masukan. Namun rasa peduli dan iba yang muncul dalam hati membuat saya ingin mencoba untuk sedikit berbagi pengalaman.

Ia bercerita, “Rahma-nama samaran- adalah seorang wanita yang tidak berlatar belakang pendidikan agama (pesantren). Ia dinikahi oleh seorang pria yang di kampungnya dikenal sebagai seorang ustadz yang sangat ramah dan berpengetahuan luas dalam hal agama. Awalnya Rahma sangat berharap akan hidup bahagia dengan menjadi istri bagi seorang ustadz yang sangat dikagumi dan dihormati oleh masyarakat di kampungnya.

Dan memang, sebelum dia dipersunting oleh sang ustadz, dia sangat simpati pada ustadz tersebut karena disetiap pengajian dan ceramah yang disampaikannya, mampu menyejukkan hati para pendengarnya, dan dia mengira dan berharap sang ustadz akan mengamalkan semua apa yang disampaikannya pada masyarakat.

Pernikahan mereka baru berusia tiga tahun, namun selama ini rahma merasa seolah-olah ucapan dan sikap sang suami sangat berbeda. Ketika di luar rumah, sang suami kelihatan ramah, lembut, dan sangat penyayang, sehingga masyarakat sangat menghormatinya. Namun sebaliknya, ketika di rumah, sang suami bersikap keras dan sangat mudah terpancing emosinya.

Hati Rahma sangat terpukul ketika suaminya berkata kepadanya, “Dasar istri (maaf) anjing.” Ketika mendengar kata-kata itu perasaan Rahma sangat terpukul dan merasa sedih sekali. Gara-garanya rahma mengkritik sang suami dengan berkata, "Ketika ceramah kamu berkata begini dan begitu, namun giliran di rumah kamu selalu menghardik dan berkata kasar kepada istri.”

Menurut Rahma, walaupun dia tak tahu banyak soal agama, namun dia tahu bagaimana seharusnya sikap seorang suami kepada istrinya. Awalnya rahma berharap, suaminya akan memperlakukannya dengan lemah lembut, mengecup keningnya, mengucapkan salam dan menanyakan kabar istri ketika masuk rumah, menolong pekerjaan istri, dsbnya, sebagaimana cerita indah pasangan suami istri para sahabat nabi, terutama Rasulullah. Namun seolah-olah itu hanya tinggal impian belaka.

Selama ini dia merasa sudah melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri dan ibu, walaupun masih ada beberapa kekeliruan dan kesalahan kecil yang sebenarnya masih bisa ditegur dengan cara baik-baik. Dia merasa, sikap suaminya tersebut bukan malah menyadarinydari kesalahan-kesalahannya, namun malah menambah sakit hati pada sang suami.”

Saya bisa maklum bahwa pernikahan tidak selalu bahagia. Ada saat dimana gejolak dan benturan-benturan mencoba mengolengkan bahtera rumah tangga. Namun sesulit apapun kondisi yang menghadang, jika dihadapi dengan pikiran jernih, hati yang bersih, dan azam yang kuat, cepat atau lambat jalan keluar akan nampak juga.

Belajar dari kisah Rahma diatas ada hal penting yang patut kita perhatikan, terutama bagi yang ingin menikah, bahwa sangat penting sekali sebelum melangkah pada jenjang pernikahan seseorang harus tahu dan mengenal watak, karakter, dan pribadi orang yang akan ia jadikan teman hidupnya.

Umpama seseorang akan melakukan perjalanan jauh, ia harus bijak dan pandai memilih kawan agar tidak sengsara dalam perjalanan nantinya. Memilih kawan yang jujur, amanah, se-ide, dan berhati baik. Dalam upaya untuk mengenal lebih jauh kepribadian calon pasangan tetap harus dalam koridor syar`i dan bukan dengan cara pacaran yang banyak digandrungi muda-mudi saat ini yang cenderung membawa pada kemudharatan dan pelampiasan syahwat sesaat.

Terkadang, sebagian orang terlena dengan penampilan sesaat yang cukup mengesankan, namun di dalam diri orang tersebut ada sikap tidak baik yang berusaha ia tutupi dari orang lain. Ibarat seseorang yang menjadi artis, dalam film ia begitu anggun, berjilbab, sopan, ramah, ya begitu memikat hati, menjadi idola, dan kebanggaan banyak orang. Tapi di luar film, dalam keseharian, banyak prilakunya yang jauh dari tuntunan agama.

Dalam upaya mengenal kepribadian calon pasangan, jalan yang bisa kita tempuh adalah: Pertama, dengan meminta petunjuk pada Allah melalui shalat Istikharah dan shalat Hajat. Allah yang Maha Mengetahui akan menunjukkan jalan dan memberikan ketenangan kepada hati terhadap pilihan kita.

Kedua, dengan meminta tolong pada pihak terdekat dengan calon, seperti kedua orang tuanya, saudara/inya, teman-temannya, dllnya. Atau dalam istilah lain bermusyawarah dengan mereka tentang pribadi calon tersebut. Menanyakan kesehariannya, kebiasaannya yang positif dan negatif, prilakunya, wataknya, dan seterusnya. Sehingga itu menjadi pertimbangan sebelum menjatuhkan pilihan.

Apabila kita sudah istikharah, hati merasa mantap, dan setelah bermusyarah hati semakin yakin, insya Allah teruslah melangkah, itu menjadi petunjuk bahwa pilihan tersebut adalah yang tepat dan sesuai saat ini.

Walau nanti setelah berumah tangga akan ada masalah yang terjadi itu adalah hal yang wajar. Karena ibarat kita mengarungi samudera yang luas, tidak selamanya akan tenang, akan ada ombak yang akan mencoba menggoncang bahtera rumah tangga. Sehingga setiap individu diharapkan untuk tetap berpikiran jernih, berbaik sangka, dan tenang walau dalam kondisi sesulit apapun.

Ketika terjadi konflik dalam rumah tangga, suami suka berkata kasar dan menyakiti hati istri, ada dua faktor yang mungkin menjadi pemicu;

internal dan eksternal. Internalnya adalah istri, ia harus melakukan introspeksi diri. Bagaimanapun juga hal itu harus dilakukan denganpikiran yang jernih dan keinginan yang jujur. Apakah selama ini kata-kata dan sikapnya pernah melukai dan menyinggung hati suaminya. Jika setelah diteliti hal itu tidak ia temukan, dan istri merasa yakin bahwa sikapnya selama ini masih wajar dan tidak berlebihan, maka pemicunya mungkin berasal dari eksternal, yaitu suami.
Sebagai seorang istri yang menginginkan kebaikan dan keutuhan rumah tangga ia harus mencoba bertanya pada suaminya dengan tenang, sabar dan lembut, melalui lisan (langsung) atau tulisan jika secara lisan tidakmemungkinkan. Apa yang menjadi penyebab sikap suaminya begitu kasar. Apakah selama ini ia telah berlaku tidak baik, tidak sopan, dan tidak menyenangkan. Apa saja sikapnya yang tidak disukai suami selama ini. Jika suami mengatakan ada, dan ia menyebutkan, maka minta maaflah padanya, dan berjanjilah untuk segera merubahnya.

Namun jika setelah ditanya secara jujur ia mengatakan tidak ada, barangkali sang suami sedang menghadapi permasalahan, baik itu pribadi atau dengan orang lain.

Untuk hal ini coba dengan baik-baik menanyakan pada suami. Dan utarakan bahwa apa yang menjadi beban suami, juga menjadi bebannya, dan katakan bahwa ia akan selalu siap, setia, dan membantu segala kesulitan suaminya.

Bila suami enggan untuk memberi jawaban/bercerita, cari tahulah orang terdekat dengannya, mungkin orang tua, saudara/i dan lainnya. Orang yang ia segani dan ia dengar kata-katanya. Coba tanyakan pada orang tersebut adakah suaminya bercerita tentang dirinya/rumah tangganya atau permasalahannya, jika tidak ada, coba utarakan pada orang terdekat itu kondisi yang kini tengah ia hadapi dengan suaminya dan meminta tolong untuk menyelesaikan permasalahan itu. Baik secara person atau mempertemukan kedua belah pihak untuk mendamaikan.

Dibawah ini ada kiat-kiat untuk meraih kasih sayang dan melunakkan hati suami :

1. Selalulah berdoa pada Allah agar diberikan ketabahan terhadap ujian yang tengah menimpa rumah tangga, memohon pada Allah agar menjaga keutuhan rumah tangga, meminta ampun atas dosa-dosanya dan dosa-dosa suaminya, dan memberi petunjuk pada suaminya untuk merubah sikapnya.

2. Sekali-kali (jika sering sangat baik), bangunlah di malam hari untuk berdoa pada Allah seusai shalat Tahajud, dan alangkah indahnya ketika seorang istri berdoa di keheningan malam dengan deraian air mata tulus di hadapan Allah, berdoa untuk keutuhan keluarga dan kebaikan suaminya. Apalagi kalau hal itu tanpa ia sadari diketahui suaminya, dengan izin Allah, suami akan terharu, meneteskan airmata, dan menyadari kekeliruannya.

Sedikit cerita dari seorang teman saya dari Yaman. Kisahnya tidak jauh beda dengan Rahma.

Sang istri tersebut selalu bangun tengah malam sendiri. Dalam shalat dan doanya ia menangis panjang dan hal itu tanpa ia sadari diketahui oleh suaminya. Suaminya terharu, ikut menangis, dan sejak saat itu kehidupan rumah tangganya menjadi harmonis, sakinah dan penuh mawaddah.

3. Bagaimanapun kasar dan kerasnya perlakuan suami, cobalah untuk tetap tenang, sabar dan tersenyum. Selalu memberikan perhatian tulus dan pelayanan terbaik pada suami. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya. Dan yakinlah bahwa hati yang keras suatu saat akan luluh juga dengan keistiqamahan kita dalam kebaikan.

4. Berilah selalu penghormatan yang tulus. Mudah tersenyum. Berikan perhatian tulus pada suami, tanyakan apa keinginannya, lakukan apa yang ia perintahkan, sambut mesra ketika ia pulang ke rumah, dan tanya keadaannya.

Jika ia bekerja di luar rumah, secara rutin, teleponlah ia, tanyakan kabarnya, kesehatannya, sudah makan, sedang apa, dsbnya.

5. Jangan bosan untuk mengatakan, “Aku cinta padamu”, “Aku rindu padamu kanda”, “Dinda sayang pada kanda.” Dan ungkapan-ungkapan mesra lainnya.

6. Sekali-kali ajaklah ia berjalan-jalan/bertamasya, dalam perjalanan itu katakanlah dengan tulus sambil menggenggam erat tangannya, “Kanda aku sangat mencintaimu, seperti seorang bidadari sorga yang mencintai suaminya”. “Kanda aku bahagia hidup bersamamu”, dan kata-kata mesra lainnya.

7. Selalulah berhias di hadapannya, gunakan parfum yang ia sukai, ya selalulah tampil anggun, bersih dan rapi ketika bergaul dengannya. Buatlah diri selalu menarik di hadapannya, rawatlah selalu kesegaran dan kecantikan wajah serta tubuh. Jika ia berada dirumah jadikan hatinya paling senang jika berada di rumah, buatlah rumah senyaman mungkin dengan tata ruang yang manis, rapi, dan indah menawan.

8. Sekali-kali candailah ia, ajak ia tertawa dan bawakan cerita-cerita yang membuatnya tersenyum dan terhibur. Pujilah ia, hargai pendapatnya dan berikan ia dorongan ketika ragu untuk melangkah pada kebaikan. Semangati ia bahwa ia akan selalu ada disampingnya.

9. Jika ia salah dan keliru, mudahlah memberi maaf dan balaslah dengan kebaikan. Jangan egois dan selalu mementingkan keinginan sendiri. Terbukalah padanya, jangan menutup-nutupi sesuatu darinya . Jangan langsung marah jika menemukan sesuatu yang tidak disukai darinya. Tetapi ajaklah ia berdiskusi, dan mintalah saran, dan pendapat darinya. Dan berilah pengertian kepadanya bahwa apa yang dilakukannya akan berdampak buruk bagi keutuhan kehidupan berumah tangga.

10. Jika ia butuh bantuan, segeralah memenuhinya. Jadilah orang yang selalu perhatian terhadap kebutuhannya.

Dan sangat banyak hal lainnya yang bisa dilakukan. Tak lupa juga untuk membaca kisah-kisah istri teladan yang telah mengharumkan sejarah. Sebagai seorang hamba Allah kita harus tetap sabar, tenang, berbaik sangka, optimis, dan yakin bahwa seberat apapun ujian dan kesulitan yang menimpa seorang hamba, Allah juga telah menyiapkan jalan keluarnya. Semua itu merupakan medan ujian guna meningkatkan kualitas iman dan ladang amal untuk memanen pahala. Kita harus selalu percaya bahwa Allah selalu beserta hamba-Nya yang sabar dan tawakal dalam menjalani hidup dan selalu memohon pertolongan-Nya.

Semoga tulisan yang sederhana ini memberi manfaat buat kita semua, insya Allah.

Wallahu a`lam bish-showab.

Salam dari Kairo,



sumber : eramuslim.com