Tampilkan postingan dengan label Satria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satria. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2009

Tips Ganti Kampas Rem Belakang Suzuki Satria FU-150

Hayo apa beda pengereman depan dengan belakang pada motor bebek. Yup di bagian haluan, semuanya sudah pakai sistem cakram. Sementara di bagian belakang, masih ada yang pakai sistem teromol. Iya, kan? Nah ngemeng-ngemeng (omong-omong) soal pengereman dengan cakram di bagian depan, tentu sudah sering dibahas masalah bagaimana cara ganti disk pad alias kampas rem. Tapi bagaimana cara ganti kampas rem untuk yang pengereman belakangnya pakai cakram seperti pada Suzuki Satria FU 150 ? “Tidak susah kok, selain itu alat-alat yang digunakan juga tidak terlalu banyak. Cukup sediakan kunci ring ukuran 14, 17 dan kunci L-5,” ungkap Philips, mekanik bengkel motor umum Formula Motor di Griya Harapan Permai, Bekasi Barat. Malah, kalo mau disambi nonton hasil quick count pilpres juga bisa. Asalkan TV-nya ditaruh dekat Anda membengkel. Dalam bahasa sederhana, gampang banget, deh! Asalkan tahu tahapannya. Mau tahu caranya lebih lanjut? Pertama-tama kendurkan (bukan dicopot) lebih dulu baut L yang dipakai buat pengunci antara kaliper dengan dudukannya . “Cara pertama ini harus dilakukan sebelum roda belakang dilepas. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah baut L tersebut jadi aus,” ujar pria berkulit sawo matang ini. Baru kemudian dilanjutkan dengan melepas as roda dengan kunci 14 di sebelah kiri dan 17 di sebelah kanan. Kelar melepas roda, pasti diikuti juga dengan copotnya dudukan kaliper yang menempel pada as roda dan swing arm. “Baut L yang di langkah awal hanya dikendurkan, sekarang bisa dilepas agar kaliper bisa terpisah dengan dudukannya,” terang Philips. Selanjutnya kampas rem yang sudah lawas bisa dilepas dan diganti dengan kampas rem baru yang harganya Rp 15 ribu. Oh ya sebelum pasang kampas rem baru, perhatikan piston pada kalipernya. Bila ada kotoran bisa dibersihkan sekalian. Silakan gunakan bensin. Intinya, buat jaga-jaga. Sekaligus sebagai prosesi perawatan. “Jangan sampai gara-gara kotoran tersebut, fungsi pengereman jadi terganggu,” wanti pria yang kasih tahu bila tak ada kampas rem orisinal Satria FU, bisa disubstitusikan pakai kampas rem depan bawaan Suzuki Spin. Memberi grease alias gemuk pada 2 batang di dudukan kaliper bisa jadi langkah selanjutnya . Itu sebelum perangkat semua pengereman dirakit dan ban belakang dipasang kembali. Simpel, kan?

Sumber : Otomotifnet.com

Selasa, 14 Juli 2009

Upgrade Performa Satria FU-150 Bolt On (PnP)

Mendongkrak power Suzuki Satria F150 bisa dilakukan bertahap. Bahasa kerennya step by step. Mulai dari yang paling mudah dilakukan dengan harga terjangkau sampai yang sulit dikerjakan dengan harganya mahal.

Seperti paket yang disodorkan R59 Racing khusus Satria F-150. Satu paket terdiri knalpot Pico, CDI BRT Dualband, karburator dan kem. Tapi, jika dananya minim bisa dibeli ketengan.

Untuk pemula atau yang masih awam bisa mulai dari beli knalpot dulu. “Siapa saja bisa pasang. Dirancang tinggal plek dan sudah dilengkapi braket,” jelas Ergus, bos R59 Racing dari Jl. Dewi Sartika, No. 32, Ciputat, Tangerang.

Menurut Ergus, knalpot yang dari bahan steinless steel dan aluminium ini dirancang simpel. “Artinya tidak perlu ganti spuyer. Cukup seting setelan udara,” jelas Ergus yang masih pengantin baru itu.

Untuk membuktikan omongan Ergus perlu dilakukan pengujian. Guna mengukur kenaikan tenaga dan torsi menggunakan dynotest merek Dinojet 250i milik BRT (Bintang Racing Team). Juga mengukur pake AFR-meter untuk ngetes campuran bensin-udara sebagai panduan seting spuyer.

Dipandu Suar instruktur dynotest. Pengetesan dilakukan pada Suzuki Satria F-150 2007 harian. Tahap awal dites dulu kondisi standar tanpa penggantian apapun. Mesin sanggup memuntahkan tenaga 11,62 dk pada 9.000 rpm. Torsinya 9,8 Nm pada 7.300 rpm.

Selanjutnya penggantian knalpot standar. Langsung pakai pipa buang merek Pico dan tanpa seting udara. Setelah dilakukan pengetesan, mesin sanggup memuntahkan power 12,86 pada 10.100 rpm. Artinya terjadi kenaikan tenaga 1,24 dk. Lumayan tinggi untuk ukuran motor standar.

Torsi juga terdongkrak. “Setelah ganti knalpot jadi 10,68 Nm. Artinya mengalami kenaikan 0,88 Nm,” jelas Suar yang asli wong Jowo itu.

Selain uji power dan torsi, sekaligus juga melakukan pengukuran pakai AFR-meter. Campuran bensin udara berada di rentang 13 : 1. Ini masih dirasa sangat ideal untuk ukuran motor kohar alias korek harian. Berarti omongan Ergus terbukti. Pake knalpot ini, tidak perlu lagi ganti spuyer. Sekali lagi, sudah langsung pas begitu pipa saluran buang dipasang.

Percaya?

CDI KHUSUS

Untuk pemula atau yang awam, setelah ganti knalpot menyusul pasang CDI Racing. Sebagai pasangan knalpot Pico tadi, bisa pakai CDI BRT Dualband edisi khusus. wak, kayak tabloid aja! Atau bisa aplikasi CDI BRT I-Max yang bisa diprogram. Timing pengapiannya bisa mengikuti panduan Suar.

Katanya sih, kurvanya pada rpm 1.500 yaitu 15 derajat, rpm 2.500 yaitu 27 derajat, rpm 3.000-6.000 yaitu 36 derajat, 6.500-11.000 yaitu 42 derajat, 11.500 yaitu 41 derajat, 12.000-16.000 yaitu 40 derajat. Semua ada 20 step dan per step naik 500 rpm.

Setelah menggunakan CDI racing edisi khusus tadi, tenaga mesin meningkat 13,53 dk pada 10.000 rpm. Artinya power mengalami kenaikan lagi sebesar 0,67 dk. “Total setelah menggunakan knalpot racing dan CDI khusus tadi jadi 1,91 dk. Artinya, ada kenaikan sebanyak 2 dk,” jelas Ergus yang bisa ditanya soal teknik di (021) 93339259.

Sumber : Motorplus Online